Selasa, 15 Maret 2011

love story 8


Setiap kali ada sahabat yang ingin
menikah, saya selalu mengajukan
pertanyaan yang sama. Kenapa kamu
memilih dia sebagai suami/isterimu?
Jawabannya ada bermacam-macam. Bermula
dengan jawaban kerana Allah
hinggalah jawaban duniawi.

Tapi ada satu jawaban yang sangat
menyentuh di hati saya. Hingga saat
ini
saya masih ingat setiap detail
percakapannya. Jawaban dari salah
seorang
teman yang baru saja menikah. Proses
menuju pernikahannya sungguh
ajaib.
Mereka hanya berkenalan 2 bulan.
Kemudian membuat keputusan menikah.
Persiapan pernikahan mereka hanya
dilakukan dalam waktu sebulan saja.
Kalau
dia seorang akhwat, saya tidak hairan.
Proses pernikahan seperti ini
selalu
dilakukan. Dia bukanlah akhwat,
sebagaimana saya. Satu hal yang pasti,
dia
jenis wanita yang sangat berhati-hati
dalam memilih suami.

Trauma dikhianati lelaki membuat
dirinya
sukar untuk membuka hati.
Ketika
dia memberitahu akan menikah, saya
tidak
menganggapnya serius. Mereka
berdua
baru kenal sebulan. Tapi saya berdoa,
semoga ucapannya menjadi
kenyataan.
Saya tidak ingin melihatnya menangis
lagi.

Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia
menyebutkan tarikh
pernikahannya.
Serta meminta saya untuk memohon cuti,
agar dapat menemaninya semasa
majlis
pernikahan. Begitu banyak pertanyaan
dikepala saya. Sebenarnya.. ..!!!

Saya ingin tau, kenapa dia begitu mudah
menerima lelaki itu. Ada apakah

gerangan? Tentu suatu hal yang
istimewa.
Hingga dia boleh memutuskan
untuk
bernikah secepat ini. Tapi sayang, saya
sedang sibuk ketika itu
(benar-benar
sibuk).

Saya tidak dapat membantunya
mempersiapkan keperluan pernikahan.
Beberapa
kali dia menelefon saya untuk meminta
pendapat tentang beberapa
perkara.
Beberapa kali saya telefon dia untuk
menanyakan perkembangan persiapan
pernikahannya. That's all......Kami
tenggelam dalam kesibukan
masing-masing.

Saya menggambil cuti 2 hari sebelum
pernikahannya. Selama cuti itu saya

memutuskan untuk menginap dirumahnya.

Pukul 11 malam sehari sebelum
pernikahannya, baru kami dapat berbual
-hanya-
berdua. Hiruk pikuk persiapan akad
nikah
besok pagi, sungguh
membelenggu
kami. Pada awalnya kami ingin berbual
tentang banyak hal.

Akhirnya, dapat juga kami berbual
berdua. Ada banyak hal yang ingin
saya
tanyakan. Dia juga ingin bercerita
banyak perkara kepada saya. Beberapa
kali
Mamanya mengetok pintu, meminta kami
tidur.

"Aku tak boleh tidur." Dia memandang
saya dengan wajah bersahaja. Saya
faham
keadaanya ketika ini.

"Matikan saja lampunya, biar disangka
kita dah tidur."

"Ya.. ya." Dia mematikan lampu neon
bilik dan menggantinya dengan lampu
yang
samar. Kami meneruskan perbualan secara
berbisik-bisik.

Suatu hal yang sudah lama sekali tidak
kami lakukan. Kami berbual
banyak
perkara, tentang masa lalu dan
impian-impian kami. Wajah keriangannya
nampak
jelas dalam kesamaran. Memunculkan aura
cinta yang menerangi bilik
ketika
itu. Hingga akhirnya terlontar juga
sebuah pertanyaan yang selama ini
saya
pendamkan.

"Kenapa kamu memilih dia?" Dia
tersenyum
simpul lalu bangkit dari
baringnya
sambil meraih HP dibawah bantalku.
Perlahan dia membuka laci meja
hiasnya.
Dengan bantuan lampu LCD HP dia mengais
lembaran kertas didalamnya.

Perlahan dia menutup laci kembali lalu
menyerahkan sekeping envelop
kepada
saya. Saya menerima HP dari tangannya.
Envelop putih panjang dengan cop

surat syarikat tempat calon suaminya
bekerja. Apa ni. Saya melihatnya
tanpa
mengerti. Eeh..., dia malah ketawa geli
hati.

"Buka aja." Sebuah kertas saya tarik
keluar. Kertas putih bersaiz A4,
saya
melihat warnanya putih. Hehehehehehe.
.......

"Teruknya dia ni." Saya
menggeleng-gelengka n kepala sambil
menahan
senyum.
Sementara dia cuma ketawa melihat
ekspresi saya. Saya mula
membacanya.Saya
membaca satu kalimat diatas, dibarisan
paling atas. Dan sampai saat
inipun
saya masih hafal dengan kata-katanya.
Begini isi surat itu…......

undefined
************ ********* *********
********* ********* *********
*********
********* ********* ********* *********
********* ********* *********
********* ********* ********* *********
*******
Kepada Yth .........

Calon isteri saya, calon ibu anak-anak
saya, calon menantu Ibu saya dan

calon kakak buat adik-adik saya

Assalamu'alaikum Wr Wb

Mohon maaf kalau anda tidak berkenan.
Tapi saya mohon bacalah surat ini

hingga akhir. Baru kemudian silakan
dibuang atau dibakar, tapi saya
mohon,
bacalah dulu sampai selesai.

Saya, yang bernama ............ ...
menginginkan anda ............ ...
untuk
menjadi isteri saya. Saya bukan
siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa.
Buat
masa ini saya mempunyai pekerjaan.

Tetapi saya tidak tahu apakah
kemudiannya saya akan tetap bekerja.
Tapi
yang
pasti saya akan berusaha mendapatkan
rezeki untuk mencukupi keperluan
isteri dan anak-anakku kelak.

Saya memang masih menyewa rumah. Dan
saya tidak tahu apakah kemudiannya
akan
terus menyewa selamannya. Yang pasti,
saya akan tetap berusaha agar
isteri
dan anak-anak saya tidak kepanasan dan
tidak kehujanan.

Saya hanyalah manusia biasa, yang punya
banyak kelemahan dan beberapa
kelebihan. Saya menginginkan anda untuk
mendampingi saya. Untuk
menutupi
kelemahan saya dan mengendalikan
kelebihan saya. Saya hanya manusia
biasa.
Cinta saya juga biasa saja.

Oleh kerana itu. Saya menginginkan anda
supaya membantu saya memupuk
dan
merawat cinta ini, agar menjadi luar
biasa.

Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat
bersama-sama sampai mati.
Kerana
saya tidak tahu suratan jodoh saya.
Yang
pasti saya akan berusaha
sekuat
tenaga menjadi suami dan ayah yang
baik.

Kenapa saya memilih anda? Sampai saat
ini saya tidak tahu kenapa saya
memilih anda. Saya sudah sholat
istiqarah berkali-kali, dan saya
semakin
mantap memilih anda.

Yang saya tahu, Saya memilih anda
kerana
Allah. Dan yang pasti, saya
menikah
untuk menyempurnakan agama saya, juga
sunnah Rasulullah. Saya tidak
berani
menjanjikan apa-apa, saya hanya
berusaha
sekuat mungkin menjadi lebih
baik
dari sekarang ini.

Saya memohon anda sholat istiqarah dulu
sebelum memberi jawaban pada
saya.
Saya beri masa minima 1 minggu, maksima
1 bulan. Semoga Allah ridho
dengan
jalan yang kita tempuh ini. Amin

Wassalamu'alaikum Wr Wb

************ ********* *********
********* ********* *********
*********
********* ********* ***
Saya memandang surat itu lama.
Berkali-kali saya membacanya. Baru kali
ini
saya membaca surat 'lamaran' yang
begitu
indah.

Sederhana, jujur dan realistik. Tanpa
janji-janji yang melambung dan
kata
yang berbunga-bunga. Surat cinta biasa.

Saya menatap sahabat disamping saya.
Dia
menatap saya dengan senyum
tertahan.

"Kenapa kamu memilih dia......?"

"Kerana dia manusia biasa....... " Dia
menjawab mantap. "Dia sedar
bahawa
dia manusia biasa. Dia masih punya
Allah
yang mengatur hidupnya.

Yang aku tahu dia akan selalu berusaha
tapi dia tidak menjanjikan
apa-apa.
Soalnya dia tidak tahu, apa yang akan
terjadi pada kami kemudian hari.
Entah
kenapa, justru itu memberikan
kesenangan tersendiri buat aku."

"Maksudnya?"

"Dunia ini fana. Apa yang kita punya
hari ini belum tentu besok masih
ada.
betuI tak? Paling tidak.... Aku tau
bahawa dia tidak akan frust kalau
suatu
masa nanti kami jadi miskin.

"Ssttt...... ." Saya menutup mulutnya.
Khuatir kalu ada yang tau kami
belum
tidur. Terdiam kami memasang telinga.

Sunyi. Suara jengkering terdengar
nyaring diluar tembok. Kami saling
berpandangan lalu gelak sambil menutup
mulut masing-masing.

"Udah tidur. Besok kamu mengantuk, aku
pula yang dimarahi Mama." Kami
kembali berbaring. Tapi mata ini tidak
boleh pejam. Percakapan kami
tadi
masih terngiang terus ditelinga saya.

"Gik.....?"
"Tidur...... Dah malam." Saya menjawab
tanpa menoleh padanya. Saya
ingin dia
tidur, agar dia kelihatan cantik besok
pagi. Rasa mengantuk saya telah
hilang, rasanya tidak akan tidur
semalaman ini.

Satu lagi pelajaran dari pernikahan
saya
peroleh hari itu. Ketika
manusia
sedar dengan kemanusiannya. Sedar
bahawa
ada hal lain yang mengatur
segala
kehidupannya. Begitu juga dengan sebuah
pernikahan. Suratan jodoh sudah

terpahat sejak ruh ditiupkan dalam
rahim. Tidak ada seorang pun yang
tahu
bagaimana dan berapa lama pernikahannya
kelak.

Lalu menjadikan proses menuju
pernikahan
bukanlah sebagai beban tetapi
sebuah 'proses usaha'. Betapa indah
bila
proses menuju pernikahan
mengabaikan harta, tahta dan 'nama'.

Status diri yang selama ini melekat dan
dibanggakan (aku anak orang
ini/itu), ditanggalkan.

Ketika segala yang 'melekat' pada diri
bukanlah dijadikan pertimbangan
yang
utama. Pernikahan hanya dilandasi
kerana
Allah semata. Diniatkan untuk
ibadah. Menyerahkan segalanya pada
Allah
yang membuat senarionya.

Maka semua menjadi indah.

Hanya Allah yang mampu menggerakkan
hati
setiap HambaNYA. Hanya Allah
yang
mampu memudahkan segala urusan. Hanya
Allah yang mampu menyegerakan
sebuah
pernikahan.

Kita hanya boleh memohon keridhoan
Allah. MemintaNYA mengurniakan
barokah
dalam sebuah pernikahan. Hanya Allah
jua
yang akan menjaga ketenangan
dan
kemantapan untuk menikah.
Jadi, bagaimana dengan cinta?

Ibu saya pernah berkata, Cinta itu
proses. Proses dari ada, menjadi
hadir,
lalu tumbuh, kemudian merawatnya.

Agar cinta itu dapat bersemi dengan
indah menaungi dua insan dalam
pernikahan yang suci. Cinta tumbuh
kerana suami/isteri (belahan jiwa).

Cinta paling halal dan suci. Cinta dua
manusia biasa, yang berusaha
menggabungkannya agar menjadi cinta
yang
luar biasa. Amin.

Love story 7

Apa sahaja yg bisa membuat diri nya bahagia awak sanggup lakukan demi memiliki hatinya tanpa menghiraukan apakan terjadi dan lantar belakang si dia. Dalam tak sedar anda telah mengetahui si dia ada yg lain, setiap kali anda ingin mendapatkan jawapan dan kepastian dari si dia…sudah pasti berbagai alasan, seringkali menjauhkan diri dari anda. Situasi begini lah sering berlaku andai org yg kita anggap sebagai kekasih itu ingin mengambil kesempatan dalam diam tanpa kita sedari cinta yg kita semai sekian lama telah dikhianati dan dalam diam dia ada yg lain.

Dalam situasi begini perlukah kita merayu si dia sedangkan kita sudah mengetahui si dia pasti tak kan kembali ke pangkuan kita kerna yg pasti dia telah ada yg lain yg lebih kukuh kedudukan nya. Bila kita harus memilih jalan yg terbaik utk diri kita, jgn sekali merayu pada yg tak menghargai cinta kita. Cinta tak seharusnya memiliki, cinta tak seharusnya menyakiti, cinta juga tak seharusnya menyentuh andai tiada haluan bersama lepaskan lah agar tiada yg terluka walaupun rasa itu amat pedih hakikat nya sudah tiada jodoh.

Mungkir pada janji bukan kerna kita bersalah mungkin utk kebaikan, kesamaran dalam sebuah perhubungan yg tak bisa diselamatkan. Utk teman yg pernah mengalami kepahitan dalam sebuah perhubungan yg di khianati jgn mudah berputus asa dalam mengharungi segala dukaan mungkin ada hikmat disebalik semua itu. Jangan merayu pada yg tak sudi kerna itu kan menjatuhkan maruah mu, jgn tangisi apa yg berlaku…..

Semua org ingin kan cinta sejati dan hakiki tapi mungkin sudah seharusnya jgn sesali semua yg terjadi, perpisahan tak terhindari kerna tiada kejujuran. Dalam hidup ini kita tak kan lari dari kekecewaan yg pasti jadikan ia suatu pengajaran.

Love story 6

Ketika Hubungan Dikhianati
Luka di jari tersa sakit hanya beberapa hari sampai dia menutup lagi dengan meninggalkan bekas, dan luka di hati tidak pernah terlihat tetapi begitu pedih, perih dan sakitnya terasa sangat lama. Itulah yang terjadi ketika hubungan kita dikhianati, terasa semua pengorbanan sia-sia, segala kebaikan tidak ada artinya sekarang tinggal menjadi sampah yang terbuang.
Cinta tidak pernah salah dan sebaiknya tidak menyalahkan cinta atas penghianatan ini, mencintai haya memberi dan tanpa mengharapkan balasan, seningga tidak pernah merasa rugi jika didasari ketulusan seperti kita memberi bantuan kepada orang dan orang itu lupa dan pura-pura nggak ingat kepada kita. Seperi tuhan mencintai kita tanpa mengharapkan balasan, bilamana kita lupa beliau akan menerima kita saat kita bertobat dan kembali padanya.
Cinta adalah jembatan yang menghubugkan dua dunia hati yang berbeda, cinta hanyalah perantara keinginan mengikat hati dalam sebuah hubungan dengan keinginan saling menyayangi, menghormati kekurangan dan kelebihan masing-masing, saling memperhatikan satu sama lain dan saling menjaga

Love story 5

Cerita cinta ini berlangsung ketika ak berkenalan dengan dia 4 tahun yang lalu,,ntah ad angin apa ak bsa knal denGan si Dia,,itu bermula ktika secara tidak disengaja ak mendengarkan slah satu siaran radio yg mana acaranya tentang perjodohan,,berhubung wktu itu sttus ak jomblo g ad salahnya ak sebarkan no.hp q..g lama kemudian ak g nyangka tiba2 hp q berdering,,ternyata ad 1 pesan msuk ke hp q!!!kmudian ak bca g tw itu psan dri seorg cwe yg mw ngjk knlan,,,tanpa basa basi ak tanggapin & akhirnya kita sepakat untuk ktmuan!!!dri pertmuan tersebut dan selang beberapa hari PDKt kita jadian!!!!sttus ak yg dlunya lajang skrg mnjadi berpacaran,,,,tentunya prasaan ini bhagia bngt n pokoknya susah buat diungkapin,,,,setelah itu kami memutuskan untuk menjalani hubungan ini ...pada awalnya hubngan ak ma dia lancar2 az ..plg sklh ak sllu nunggu dia didpn parkiran untuk jemput dia,,,,yach wlaupun kondisi cuaca wktu itu hujan lbat,,ak berelaan buat jmptin dia!!!pokonya ak sllu ad buat dia..akan tetapi akhir2 bulan sifat dia brubah,,,ktika ak knlkan dia dngn tmn ak...kayanx ad sesuatu yg disembunyikan dri ak!!wktu itu ak g sempat curiga..tpi..lama kelamaan akhirnya terkuak jg..klo dia sdang menjlin hubngn dngn tmn ak sendiri.......betapa kecewanya ak setlah tw berita itu!!!laki2 mana yg g kecewa kalau wanita yg dicintai & disayanginya selingkuh dngn tmn sendiri!!!rasanya hati ini bagai disayat benda yg tajam....wlaupun bgtu ak coba untuk tetap sbar & brni menerima kenyataan ini wlaupun bgtu pahit rasanya.tpi lama klmaan hubngn mereka bgtu erat .....perhatian ak kedia seakn sirna bgtu az...g pernh ad tanggapan lgi dri dia!!!bisa diibaratkan judul lagu "kekasih yang tak dianggap"(kertas band)...yach mw gMn lagi,,,Bgtu bnyk pengorbanan yg ak lakuin kedia tp g ad apa2nya n brarti lagi buat dia....dri situ ak mutusin untuk mencoba melupakan dia...memberi kebebasan buat dia untuk menetukan pilhannya....semenjak itu ak udh anggap driku tak layak lagi buat dia....ak pergi jauh & menghindar dri khidupan dia......waktu bgnti blan....tak trasa ak bsa melupakan dia wlaupan msh ad sdkit...knangn tentang dia....tak kusangka ak mendengar kabar dri tmn ak yg laen klo dia skrg lgi mencri informsi tentang keberadaan ak skrg...dia menyesali dngn ap yg tlah dia perbuat itu bnr2 salah besar....namun nasi sdh menjadi bubur!!!hatiku untuk dia udh terlanjur mati....bsa diblngn tak ad rasa lagi!!!karna cinta g bsa dipaksakan,,,ak g mw itu terulang lagi sama ak!!dan sampai skrg pun dia msh tetap mencri2 keberadaan ku dmn??mskipun sttus dia skrg sdh berkeluarga ...itu smua ak dngr dri informasi tmn2 ak,,,,,bgtulah sederet kisah percintaan q mungkin sbgai cwo g ad salahnya ak memegang teguh prinsip ak (kejujuran dalam sebuah hubungan),,,trimksh"
Jagalah cinta sejatimu. Jangan sampai dia pergi darimu.
Salam

Love story 4

Hari ini aku pulang dari kerja agak awal dari biasa. Memandangkan hari masih awal, aku mengambil kesempatan untuk berjalan-jalan di sekitar ibu kota. Sekadar melepaskan penat bekerja seharian. Hmm...sudah lama aku tidak berkesempatan mengambil angin seperti petang ini. Seronok pula rasanya walaupun manusia sentiasa memenuhi segenap ruang disana sini. Sedang aku leka melihat barang-barangan yang dijual di sekitar Masjid India, aku terlihat sekumpulam manusia sedang leka berkerumun melihat sesuatu. Pastinya sesuatu yang menarik!

Terdetik juga dihati ini ingin melihat apakah yang melekakan mereka semua sehingga langsung tidak berganjak dari tempat mereka berdiri. Entah mengapa hatiku semakin kuat meronta-ronta ingin melihat apabila orang ramai yang mengerumuni bertepuk tangan. Seolah-olah mereka sedang melihat ahli silap mata membuat magic. Aku juga pelik dengan perasaanku yang tiba-tiba ini. Mungkin ianya sesuatu yang menarik? Mungin juga...siapa tahu.

Ketinggian yang ku miliki langsung tidak membantu ku melihat. Puas ku cuba berasak-asak dengan mereka yang lain. Harapanya dapatlah ku kehadapan bagi melihat dengan jelas lagi ‘panorama’ didepan sana. Namun, hanya bau-bauan yang tidak tertahan menghidangi hidungku ini. Masam...masin... manis...semua ada!

Tidak mahu mengalah, aku bergerak ke sebelah kanan pula. Ya! Dari sini aku nyata boleh melihat dengan jelas. Namun apa yang terpampang dihadapanku hanyalah perkara biasa... seorang pelukis jalanan yang sedang tekun melukis potret seorang wanita. Dikelilingnya juga penuh dengan lukisan potret pelbagai wajah.

Memang tidak disangkal, lukisan-lukisan nya semua tampak hidup. Cantik! Tapi apa yang dipelikkan? Di sekitar bandar raya ini juga setahu ku terdapat ramai lagi pelukis jalanan. Namun, tidaklah terlalu mendapat perhatian seperti pemuda ini.

Apa istimewanya lelaki ini? Adakah wajahnya kacak sehingga meraih perhatian? Tapi serasaku tidak logik pula. Kalau benar pun pemuda itu terlalu kacak, pastinya dia hanya mendapat perhatian gadis-gadis saja. Namun kini bukan saja para gadis, ‘mak-mak’ dan ‘bapa-bapa’ juga turut setia melihat.

Takkan orang KL tak pernah tengok orang melukis potret??? Ada baca ayat ‘guna-guna’ ke??? Alamak...terlebih sudah! Hehehe. Aku cuba mengintai wajah pemuda itu tapi gagal kerana kedudukannya membelakangi ku. Yang kelihatan hanyalah lukisan potretnya yang hampir sempurna siap.

Selagi aku tidak melihat wajah pemuda itu dan keistimewaanya, hatiku ini tidak akan puas. Mungkin bukan rezeki ku hari ini.Esok aku akan datang lagi...

***

“Lewat kau balik, Wan?” Hadi yang melihat sahabatnya itu terkial-kial membawa perkakas lukisan ditangan turun membantu.

“Hmm...ramai sangat pelanggan tadi. Tak menang tangan aku...” Ikhwan menghela nafas. Penat siang tadi masih belum hilang.

“Yeke? Alhamdulillah...murah rezeki kau, Wan.” Hisyam yang sedang leka menonton drama Impak Maksima, menyampuk.

“Alhamdulillah. Aku pun tak sangka di bandar besar macam ni masih ada rezeki menanti untuk orang macam aku ni.” Wajah Ikhwan berubah mendung.

Melihat akan perubahan di wajah sahabat mereka itu, Hadi dan Hisyam mendekati. Mereka tahu apa yang difikirkan Ikhwan itu.

“ Wan, dahlah tu. Sebagai hamba Allah, kau kena redha dengan Qada dan Qadha nya.” Hadi menepuk-nepuk bahu sasa sahabatnya sebagai tanda semangat. Hisyam disebelah mengangguk tanda mengiyakan.

Ikhwan seyum. Dia tahu Hadi dan Hisyam merupakan sahabat yang baik...di masa senang mahupun susah. Dia berasa sungguh bertuah dapat memiliki sahabat sebaik mereka.

“Aku tahu. Terima kasih Hadi...Syam.”

Ikhwan bangkit. Berlalu ke bilik. Badan harus dibersihkan dan diri ini pula memerlukan rehat secukupnya kerana esok masih banyak tugas yang menanti.

***

Masjid India, 10 pagi...

Sengaja aku datang ke sini lebih awal hari ini. Niatku bukan untuk membeli-belah tetapi memburui agenda yang tidak kesampaian semalam.

Dari jauh sudah kelihatan orang ramai sudah berpusu-pusu mengelilingi pelukis jalanan itu. .Hmm! Nampaknya ada lagi yang lebih awal dari aku. Cuma ia tidaklah seramai semalam. Mungkin hari masih awal.

Naluri ku kuat mengatakan lelaki ini pasti ada yang ‘istimewa’ tentangnya kerana semalam dia turut hadir dalam mimpiku. Walaupun begitu, wajahnya tidak jelas kelihatan. Sesungguhnya, kehadirannya mengundang misteri kepadaku. Siapa dia???

***

Masjid India, 10 malam...

Jam sudah menjengah ke angka 10 malam. Aku masih disini. Setia menati si dia. Hanya memerhati dari jauh. Tidak pernah aku membuat kerja segila ini!

Untuk mendekatinya terus serasa tidak sesuai kerana dia begitu sibuk melayan ‘pelanggan-pelanggannya.’ Oleh itu, aku membuat keputusan menantinya sehingga dia selesai melakukan ‘tugasnya’ untuk malam itu.

Sewaktu dia sedang leka mengemas perkakas lukisannya, aku terus menjalankan misi ku yang tertangguh kelmarin.

“Encik, boleh tolong lukiskan potret saya?” Aku pura-pura bertanya. Sengaja ingin mengumpanya bersembang denganku.

“Maaf, cik. Saya dah nak balik ni. Hari pun dah lewat. Cik datang esok saja ye.” Dia tidak memandangku. Tangannya tangkas mengemas tanpa mempedulikan kehadiranku. Ape...tak cantik ke aku ni?!

Dalam samar-samar cahaya itu aku dapat melihat wajahnya dengan jelas. Kacak! Matanya...keningnya... hidungnya...mulutnya... semuanya cantik terbentuk.

Aku bagaikan berada dalam duniaku sendiri. Terasa seperti jatuh cinta pandang pertama. Tetapi mengapa dia tidak memandangku? Seakan tersedar dari mimpi yang panjang, aku kembali ke alam nyata.

“Encik, tolonglah. Satu potret je.” Aku merayu lagi. Dengan harapan dapat mengenalnya dengan lebih dekat.

Panas hati ku ini apabila rayuanku sedikit pun tidak diendahkannya. Sudahlah aku menantinya dari pagi sehingga malam menjelma, boleh pula dia buat tidak tahu!

Tanpa aku sedar, aku merampas semua berus lukisan yang entah berapa batang ditangannya dengan kasar. Ke semua berus lukisan itu bertaburan jatuh ke tanah. Aku tergamam sendiri dengan sikapku yang tiba-tiba itu. Namun,dia dengan selamba tunduk mengutip berus-berus itu tanpa memarahiku langsung. Terdetik rasa bersalah dihati tapi....

Aku terperanjat apabila tangannya teraba-raba mencari dan mengutip berus-berus yang jatuh tadi. Aksinya seolah-olah dia tidak nampak di mana kedudukan berus lukisan tersebut. Aku terpaku memandangnya. Mungkin terasa diri diperhatikan, dia menghentikan perbuatannya.

“ Kenapa? Terkejut? Tak sangka?” Bertubi-tubi soalan dia ajukan padaku.

“Err...awak...” Belum sempat aku menghabiskan kata-kataku....

“Ya! Saya buta. Puas?” Aku terperanjat dengan kenyatan yang diberikan.

“Tapi...” Aku tidak mampu meneruskan kata-kata seterusnya.

“Kuasa Allah. Segala yang diberikan adalah kurniaanNya yang tak ternilai...” Dengan perlahan dia mengungkapkan kata-kata itu yang menusuk ke jantung hatiku.

Barulah kini ku tahu mengapa dia mendapat perhatian ramai. Dia melukis dengan mata hati. Walaupun buta, tapi setiap lukisannya seolah-olah dia nampak apa yang dilukis. Dalam diam, aku mengagumi dirinya.

***

Dua tahun kemudian...

“Ikhwan...Suri nak tanya cikit boleh?” Aku memberanikan diri bertanya.

“Hahaha..sejak bila pulak kalau Suri nak tanya, Ikhwan kenakan cukai? Tak ada kan? Tanya aje lah...” Dia ketawa. Seakan-akan satu jenaka pula padanya.

“Emm... kalau Wan dapat melihat semula, Wan nak kahwin dengan Suri tak?” Aku memandang tepat ke matanya. Matanya celik namun siapa sangka pemuda kacak ini tidak cukup satu pacaindera yang tak ternilai harganya..

Kali ini ketawanya semakin galak. Aku hanya membatukan diri.

“ Wan, Suri tak main-main...” Tanpa dipaksa, air mataku menitis. Dia bungkam.

“Suri, Suri sendiri tahu Wan ni macam mana. Wan tidak sesempurna orang lain. Wan tak layak bergandingan dengan Suri. Wan buuu...” Cepat-cepat aku meletakkan jari telunjuk ke mulutnya.

Sesungguhnya, aku tidak mahu perkataan akhir itu keluar dari mulutnya. Aku ikhlas menyayanginya. Dan aku yakin dialah jodoh yang telah tersurat oleh Allah kepadaku.

“Hmm...” Ikhwan mengeluh panjang.“Suri, seandainya Tuhan takdirkan Wan dapat melihat semula, Wan akan mengawini Suri. Ini janji Wan!” Ayat terakhirnya benar-benar menbuat hatiku berlagu riang.

Aku akan nantikan saat itu...

***

Suatu pagi...

“Hello, Suri.” Awal pagi itu aku mendapat panggilan dari Ikhwan.

“Wan, kenapa ni tiba-tiba aje call?” Biasanya dia tidak akan menelefonku seawal hari ini.

“Good news! Tak lama lagi Wan akan dapat melihat semula...” Suaranya kedengaran begitu ceria.

“ Betul ke ni?” Aku sungguh gembira dengan berita yang disampaikan Ikhwan. Dalam hati, aku mengucap syukur kehadratNya.

“ Iye, sayang. Minggu depan operation .” Dari suaranya, aku tahu dia sudah tidak sabar lagi melihat dunianya kembali.

***

Sebulan kemudian...

“Suri! Kenapa Suri cuba jauhkan diri dari Wan?” Walaupun hanya berbual melalui telefon, suaranya jelas kedengaran tegang.

Ya! Selepas Wan mendapat ‘mata barunya’, aku sudah tidak menghubunginya lagi mahupun berjumpa. Kali terakhir aku berjumpanya sehari sebelum dia diusung ke bilik pembedahan. Sengaja igin menatap wajah Ikhwan sepuas-puasnya.

“Suri...cakaplah. Kenapa diam? Suri tak suka Wan dapat melihat semula?” Aku diam. Tiada kata yang mampu ku ungkapan.

“ Suri..kalau Wan tahu akan jadi begini, Wan sanggup untuk tidak melihat selama-lamanya asalkan Suri tak jauhkan diri dari Wan.” Nada suara Ikhwan berubah kecewa.

Dihujung talian, hanya esak tangisku saja yang kedengaran. Bukan aku tidak mahu bertemu Ikhwan tapi ada rahsia yang harus ku sembunyikan dari pengetahuannya.

“ Wan nak tatap wajah ‘mata hati’ Wan ni. Dan... Wan nak kabulkan janji Wan dulu pada Suri. Kita jumpa, ok?” ‘Mata hati?’ Aku tersenyum mendengar perkataan yang disebut Ikhwan itu.

***

Aku setia menanti Ikhwan di tempat dimana dia pernah melukis dulu. Di sini jugalah tempat pertemuan pertama kami dulu. Sengaja aku datang lebih awal sebelumnya. Apakah reaksinya nanti apabila melihatku?

Ikhwan sampai tepat pada masanya. Sewaktu dia sampai ditempat yang dijanjikan bersama Suri, kelihatan seorang gadis buta turut berada di situ. Dia berasa serba salah samada mahu terus ke sana atau menanti saja Suri di tempatanya berdiri.

Jantung aku pula tiba-tiba saja berdegup kencang. Aku dapat merasakan seperti Ikhwan sudah berada dekat dengan diri ini.

Entah mengapa tiba-tiba saja kaki Ikhwan laju saja melangkah ke arah di mana gadis buta itu berada. Seolah-olah gadis itu menggamit Ikhwan datang kepadanya.

Dengan ringan mulut, Ikhwan menegur. “Err...maafkan saya Cik. Cik dah lama ke duduk dekat sini?” Sekilas dia memandang wajah gadis buta itu. Cantik! Sudah lama dia tidak melihat keindahan ciptaan Ilahi itu.

“Ikhwan??? Awak Ikhwan kan?” Ikhwan terkejut kerana gadis buta itu tahu namanya.

“Ya..saya Ikhwan tapi macam mana...” Belum sempat Ikhwan menghabiskan kata-katanya,gadis buta itu bersuara lagi.

“ Sebab saya Su..Suri...” Menggeletar aku menyebut namaku sendiri.

Adakah lelaki dihadapanku ini terkejut apabila mengetahui gadis buta yang dilihatnya itu adalah aku? Bagaimanakah reaksinya? Sayangnya aku tidak mampu melihat.

“Suri??? Betul ke awak ni Suri? Ikhwan tahu Suri dulu tak macam ni kan?” Agakkan ku tepat sekali. Ikhwan benar-benar terkejut.

Yang bermain-main di hatiku kini sanggupkah dia menerimaku seperti dulu? Sanggupkah dia menunaikan janjinya dulu padaku? Aku pasrah andainya dia tidak mampu menerimaku seperti dulu. Aku terima takdirNya andainya dia bukan untukku lagi.

“Ya Allah...Suri, kenapa Suri sanggup buat ini semua? Kenapa Suri?” Ikhwan memegang bahuku dengan kedua belah tangannya. Kuat!

“Sebab Suri sayangkan Ikhwan. Suri nak Wan tahu Suri sanggup berkorban apa saje demi cinta kita ni. Dan paling penting, Suri nak tengok Wan melihat semula. Walaupun Suri tak dapat melihatnya tapi Suri gembira.” Aku senyum.

“Suri nak tengok Wan melihat semula tapi Suri...” Suara Ikhwan kedengaran sedih. Benar-benar menyentuh naluri wanitaku ini. Aku terdengar satu esakan kecil dekat ditelingaku.

Tanganku meraba-raba wajah kacak milik Ikhwan. Walaupun aku tidak boleh melihat lagi tapi aku tahu dia tetap lelaki paling kacak yang menghuni hatiku ini. Wajahnya basah. Ya! Ikhwan menangis. Aku seperti tidak percaya air mata lelaki ini tumpah jua akhirnya. Tidak semena-mena, air mataku mengalir. Bukan kerana menyesal mendermakan mata milikku kepada putera hatiku ini tapi hatiku benar-benar terkilan kerana telah menyebabkan air mata lelakinya tumpah.

“ Suri, Suri tahu tak pancaindera yang satu ini penting sangat? Suri tahu tak betapa besarnya pengorbanan yang Suri dah buat ni?” Ikhwan menyeka air mataku. Mata-mata yang melihat langsung tidak dipedulikan.

“Suri tak perlukan lagi...” Pendek aku menjawab.

“ Tapi kenapa?” Suara Ikhwan kedengaran terkejut.

“Sebab... Ikhwan mata hati Suri. Suri boleh melihat dan merasa getaran melaluinya” Aku senyum lagi.

Perlahan-lahan aku merasakan pegangan tangan Ikhwan semakin kejap pada tanganku. Terasa diri ini teramat dekat dengan dirinya.

“Suri..” Ikhwan memalingkan tubuhku mengadapnya.

“Sudikah Suri menjadi permaisuri hidup Wan? Bukan untuk seketika tapi untuk selamanya...” Kata-katanya lembut menusuk terus ke jantungku.

Aku tersenyum dan mengangguk setuju. Itulah satu-satunya ayat keramat yang aku tunggu-tunggu selama ini.

Terima kasih Tuhan kerana menemukan diriku dengan lelaki ini. Aku yakin dialah jodohku kerana Kaulah mata hatiku. Selama-lamanya...